SEJARAH
PERKEMBANGAN ILMU TASAWUF DI INDONESIA
Disusun
sebagai Tugas Mata Kuliah Ilmu Tasawuf
Program
Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI)
Dosen:
1. Dr. Hasan Mud’is. MA
2.
Danial Luthfi Al-Mahzumi. S.Sos.I
Disusun
Oleh Kelompok 3 (Tiga):
1.
Musawahi
Ega Nugraha
2.
Susi
Lusiawati
3.
Rizki
P
4.
Meri
SEKOLAH
TINGGI ILMU DAKWAH (STID) SIRNARASA
Panjalu,
Ciamis, Jawa Barat
TAHUN
2015
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. wb
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini. Kami juga bersyukur atas berkat rezeki dan kesehatan yang
diberikan kepada kami sehingga kami dapat mengumpulkan bahan-bahan materi
makalah ini dari buku-buku dan internet. Kami telah berusaha semampu kami untuk
mengumpulkan berbagai macam bahan tentang Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf Di Indonesia.
Kami sadar bahwa makalah yang kami buat ini
masih jauh dari sempurna, karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang
membangun untuk menyempurnakan makalah ini menjadi lebih baik lagi. Oleh karena
itu kami mohon bantuan dari para pembaca.
Demikianlah makalah ini kami buat, apabila ada
kesalahan dalam penulisan, kami mohon maaf yang sebesarnya dan sebelumnya kami
mengucapkan terima kasih.
Wassalam.
Sirnarasa, 2015
KELOMPOK 3
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI
....................................................................................................... 1
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
............................................................................... 2
B.
Rumusan Masalah
.......................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN
A.
Masuknya Islam
ke Indonesia ..................................................... 3
B.
Masuknya
Tasawuf ke Indonesia ............................................... 3
C.
Pemikiran Tokoh
Tasawuf di Indonesia .................................... 5
BAB III : PENUTUP
A.
Kesimpulan
.................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kajian
tasawuf Nusantara adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kajian
Islam di Indonesia. Sejak masuknya Islam di Indonesia telah tampak unsur
tasawuf yang mengisi kehidupan beragama masyarakat Indonesia, bahkan saat
inipun kajian mengenai tasawuf masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
Indonesia, dapat dibuktikan dengan semakin maraknya kajian Islam.
Menurut
Dr. Alwi Shihab, tasawuf adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara
luas di Asia Tenggara. Meski setelah itu terjadi perbedaan pendapat mengenai
kedatangan tarekat, apakah bersamaan dengan masuknya Islam atau datang
kemudian. Perbedaan yang sama terjadi pula mengenai tasawuf falsafi yang
diasumsikan sebagai sumber inspirasi bagi penentuan metode dakwah yang dianut
dalam penyebaran Islam tersebut.
Maka
dari itu dalam makalah ini kami akan menjabarkan mengenai bagaiamana tasawuf
yang bekembang di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Masuknya islam ke Indonesia
2. Masuknya tasawuf ke Indonesia
3. Pemikiran tokoh tasawuf di Indonesia
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam ke Indonesia
Kapan persisnya Islam pertama kali masuk ke
Indonesia? Sebagian besar orientalis berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia
pada abad ke-7 H dan 13 H. Pendapat itu didasarkan pada dua asumsi: pertama,
bersamaan dengan jatuhnya Baghdad pada 656 M di tangan penguasa Mongol yang
sebagian besar ulamanya melarikan diri hingga ke Kepulauan Nusantara, kedua, ditemukannya
beberapa karya sufi pada abad ke-7 H. Menurut Dr. Alwi Shihab, asumsi itu tak
bisa diterima. Bagi dia, justru Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad
pertama Hijriyah. Yakni, pada masa pedagang-pedagang sufi-Muslim Arab memasuki
Cina lewat jalur laut bagian barat. Kesimpulan itu didasarkan pada manuskrip
Cina pada periode Dinasti Tang. Manuskrip Cina itu mensyaratkan adanya
permukiman sufi-Arab di Cina, yang penduduknya diizinkan oleh kaisar untuk
sepenuhnya menikmati kebebasan beragama.Cina yang dimaksudkan dalam manuskrip
pada abad pertama Hijriyah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur
Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia. Dari laporan jurnalistik Cina itu pula kita
mendapati informasi baru bahwa ternyata jalur penyebaran Islam mula-mula di
Indonesia bukanlah dari tiga jalur emas (Arab, India, dan Persia) sebagaimana
tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini, melainkan dari Arab langsung. Itu
seperti dinyatakan kedua orientalis terkemuka, GH Niemn dan PJ Velt bahwa
orang-orang Arab-lah pelopor pertama memperkenalkan Islam di Kepulauan
Nusantara. Yakni dari keturunan Ahmad ibn Isa al-Muhajir Alawi.
B. Masuknya Tasawuf ke Indonesia
Tasawuf
merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pengkajian islam di
Indonesia, Irak Palestina dan lain-lain. Sejak Masuknya islam ke Indonesia,
unsur tasawuf telah mewarnai kehidupan keagamaan
masyarakat, bahkan hingga saat inipun, nuansa tasawuf masih kelihatan menjadi
bagian yang tidak terhapuskan dari pengalaman keagamaan kaum muslim di
Indonesia.
Bila membicarakan tentang sejarah dan pemikiran tasawuf di indonesia, Aceh
memainkan peran yang sangat penting. karena aceh merupakan wilayah yang tidak
dapat dipisahkan dari sejarah Indonesia khususnya , umumnya dengan Malaysia,
Thailand, Brunei Darussalam, dan negara Semenanjung Malaya. untuk itu tentang
sejarah pemikiran tasawuf di Indonesia, Aceh menempati posisi pertama dan
strategis, karena nantinya akan mewarnai perkembangan tasawuf di Indoensia
secara keseluruhan.
Menelusuri mewabahnya
aliran ini di Indonesia, maka hal ini tidak lepas dari pada peran andil
orang-orang yang melakukan study ( belajar ) ke negara Timur Tengah.
Diantara para
pelopor berkembangnya aliran tasawuf di Indonesia, sebagaimana yang disebutkan
dibeberapa literatur diantaranya adalah : Nuruddin Ar Raniri ( wafat tahun 1658
M ), Abdur Rauf As Sinkili (1615 -1693 M ), Muhammad Yusuf Al Makkasary (
1629-1699 M ). Mereka ini belajar di kota Makkah[1].
Abdurrauf As-sinkili setelah belajar beberapa lama kemudian diangakat
sebagai khalifah Tarekat Syatariyah oleh Muhammad Al Quraisy. Dirinya kembali
ke Aceh setelah gurunya meninggal. Keberadaanya di tanah Aceh cukup dipandang
oleh para penduduk bahkan dijadikan sebagai panutan dimasyarakat, bermodal
kepercayaan yang telah diberikan masyarakat kepadanya serta kegigihan
murid-muridnya, maka dengan mudahnya ia berhasil mengembangkan ajaran Thariqot
sufiyahnya dengan perkembangan yang sangat pesat hingga paham itu tersebar
sampai ke Minang kabau ( Sumatra Barat ). Salah satu murid Abdur Rouf As
Sinkili yang berhasil menyebarkan paham ini adalah Burhanuddin. Demikianlah
jejak pemahaman yang ditinggalkan oleh As Singkili yang berkembang pesat
ditanah Minang yang terkenal dengan religiusnya itu..
As-Sinkili meningggal dan dikuburkan di Kuala, mulut sungai Kapuas.
Tempat tersebut kini menjadi tempat ziarah yang banyak dikunjungi banyak orang.
Sedang Muhamad Yusuf Al Makasary setelah bertemu dengan gurunya yakni
Syaikh Abu Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al Kholwati Al Khurosy As Syami Ad
Dimasqy, kemudian diberi otoritas untuk menjadi kholifah bagi aliran Thariqot
Kholwatiyah dan diberi gelar dengan Taj Al Kholwati ( Mahkota Kholwati ).
Setelah kembali ke Aceh ia pun mulai mengembangkan paham Kholwatiyah ditanah
Rencong ini.
Adapun Nuruddin Muhammad bin Ali bin Muhammad Ar-Raniri (Ar-raniri) masuk
ketanah Aceh pada masa kekuasaan sultan Iskandar muda. Tapi Pada masa itu yang
berperan sebagai Mufti kerajaan adalah Syamsudin
As-Sumatrani, putra kelahiran Aceh, beliau adalah murid Hamzah Fansuri dan
mendapatkan pendidikan kesufian dari Hamzah Fansuri yang diberi gelar ulama'
dan berpemahaman Sufi Wujudiyah.
Dikarenakan kedudukan yang disandangnya cukup strategis, maka dengan
mudah ia mengembangkan paham yang dianutnya itu. Syamsudin ini bekerjasama
dengan Hamzah Fansuri, seorang ulama' yang banyak mengekspresikan pemahamannya
melalui keindahan kata ( prosa ).
Dan dari beberapa catatan literatur diperoleh informasi, bahwa
orang-orang Indonesia dan Melayu yang study di Timur Tengah, kemudian pulang ke
Nusantara dan menyebarkan ajaran tasawwuf (tarekat) masih banyak lagi. Ada
beberapa nama yang perlu di sebutkan disini mengingat keterkaitannya dalam
penyebaran tarekat di Indonesia yang hingga sekarang ajarannya masih berujud.
Mereka adalah Abdus Shomad Al Palimbani dan Muhammad Arsyad Al Banjari
(1710,1812 M). Nama terakhir ini termasuk yang mampu merombak wajah Kerajaan
Banja di Kalimantan Selatan. Bahkan karya bukunya yang banyak dikaji di beberapa
wilayah Indonesia dan Asia Tenggara, Sabil Al Muhtadiin, kini diabadikan
sebagai nama masjid besar di Kota Banjar Masin.
Pendapat yang berkembang dikalangan Ahlu Tarekat, dewasa ini di Indonesia
bekembang dua macam kelompok tarekat, yaitu tarekat mu'tabarah dan ghairu
mu'tabarah. Beberapa kelompok yang tergolong mu'tabarah seperti; Qodariyah,
Naqsyabandiyah, Tijaniyah, Syathariyah, Syadzaliyah, Khalidiyah, Samaniyah dan
Alawiyah. Dari sekian banya Thariqot mu'tabarah (berdasarkan muktamar NU di pekalongan
tahun 1950, dinyatakan 30 macam Thariqot yang di nilai mu'tabarah ), Thariqot
Naqsabandiyah - Qodariyah merupakan yang terbesar[2].
C. Pemikiran Tokoh Tasawuf
di Indonesia
Sejarah islam
dan berbagai cabangnya, termasuk sejarah tasawuf dan pengikutnya sangat penting
untuk diperkenalkan dan dibahas, diantaranya adalah mengenai tokoh-tokoh dari
ajaran tasawuf di Indonesia ini. Karena, tasawuf terus mengalami
perkembangan dan memberi pengaruh penting di Indonesia. Sejak permulaan sejarah
Islam di wilayah tersebut hingga hari ini, selama beberapa abad permulaan
sejarah, terutama pada abad ke-10 H/ 16 M dan ke-11/ 17 M, tasawuf memainkan
peranan terbesar dan paling menentukan dalam membentuk pandangan religius,
spiritual, dan intelektual di kepulauan Indonesia dan kepulauan disekitarnya.
Disini kami akan menjabarkan tentang beberapa tokoh-tokoh ulama tasawuf di
Indonesia. Diantaranya Syeikh Hamzah Fansuri,
Syeikh Nawawi al- Bantani, Syeikh H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).
1. Syeikh
Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri dilahirkan di kota Barus atau Fansur, sekarang merupakan
kota kecil Pantai Barat Sumatra, antara Sibolga (Sumatra Utara) dan Singkel
(Aceh Selatan). Hamzah Fansuri belajar di berbagai tempat, seperti; Aceh, Jawa,
Tanah Melayu, India, Persia, Arab, dsb. Diantara guru yang paling berpengaruh
adalah Ibrahim Bin Hasan al- Kurani (Madinah). Keahlian beliau terletak pada
bidang ilmu fiqh, tasawuf, mantiq, sejarah, filsafat, dan sastra. Di bidang
tasawuf misalnya, beliau merupakan salah seorang ulama yang mengajarkan Wahdatul
Wujud. Jalan pikiran tasawufnya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, Abdul
Karim Jili, Husain Mansur al-Hallaj, al-Bistami, Fariduddin Attar Jalaluddin
Rumi, Syah Nikmatullah, dan lain-lain. Kecenderungannya terhadap mereka bisa
dilihat ketika ia mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat leher
manusia sendiri, dan bahwa Tuhan tidak bertempat, sekalipun sering dikatakan
bahwa Ia ada di mana-mana. Seperti ayat berikut:
1. وَنَحْنُ أَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
…Dan Kami lebih dekat kepadanya
(manusia) daripada urat lehernya. Beliau memaknai ayat itu, adalah ”Kami
terlebih dekat-yakni bercampur dan mesra, serta bersatu wujud Allah dengan
insan-daripada urat lehernya”. Akan tetpi, beliau menolak ajaran pranayama
dalam agama Hindu yang membayangkan Tuhan berada di bagian tertentu seperti
ubun-ubun yang dipandang sebagai jiwa dan dijadikan tiik konsentrasi dalam uaha
mencapai persatuan. Meski demikian, Hamzah juga mengembangkan ajaran-ajaran
tersebut berdasarkan pengalaman rohaniahnya sendiri.
Beliau juga menguasai bahasa Arab, Persia, Urdu, dan
merupakan penulis yang produktif, yang menghasilkan bukan hanya risalah-
risalah keagamaan, tapi juga karya- karya prosa yang sarat dengan gagasan-
gagasan mistis. Beberapa buku-buku syairnya, antara lain; Syair Burung
Pingai, Syair Dagang, Syair Pungguk, Syair Sidang Faqir, Syair Ikan
Tongkol, dan Syair Perahu. Adapun karangan-karangannya dalam bentuk kitab
ilmiah, antara lain; Asrarul ’Arifin, Fii Bayaani ’Ilmis Suluuki wat Tauhid,
Syarbul ’Asyiqin, Al- Muhtadi, Ruba’i Hamzah al
Fansur[3].
2. Syeikh Nawawi al- Bantani
Syekh Nawawi bukan ulama yang ahli dalam sau bidang ilmu
saja, bahkan Abdurrahman Mas’ud menyebut dia sebagai ”Kiai Intelektual
Ensklopedi”. Ilmu yang dia ajarkan hampir semua cabang ilmu agama Islam seperti
fiqh, tauhid, tata bahasa Arab, dan bahkan tafsir al-Qur’an. Sesudah menuntut
ilmu selama 30 tahun dari para ulama dan tinggal di Makkah, Syekh Nawawi tidak
saja mampu membaca al-Qur’an secara sempurna, tetapi juga menghapalkannya.
Banyak murid belajar tafsir kepadanya, diantaranya adalah K.H Hasyim Asy’ari
(pendiri NU dan Pahlawan nasional), K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadyah), dan
Kiai Kholil Bangkalan (tokoh kharismatik dari Madura). Mereka kemudian meminta
syekh untuk membukukan tafsir al-Qur’an yang dia ajarkan kepada mereka. Kitab
tafsirini pada akhirnya terbit dan dikenal sebagai Tafsir Marah Labid
atau Tafsir al-Munir atau Tafsir an-Nawawi.
Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak
porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru
menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi
pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf.
Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini. Bagi Nawawi Tasawuf
berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa
penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya
seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan
terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya
pembinaan etika atau moral (Adab).
3. Syeikh H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
Beliau aktif
dalam soal keagamaan dan politik, selain itu ia merupakan seorang wartawan,
penulis, editor, dan penerbit.. Sejak tahun 1920-an, ia menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas,
Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.Pada yahun 1928, ia menjadi
editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar.
Untuk
menimbulkan persepsi yang berbeda di kalangan khalayak ramai tentang tasawuf,
Hamka kemudian memunculkan istilah tasawuf modern. Hal ini berdasar pada
prinsip tauhid, bukan pencarian pengalaman mukasyafah[4].
Pada abad ke-12
M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain
disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil
mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah
menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga
berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di Indonesia lebih
cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak
menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.
Abdul Hadi W. M. dalam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yang paling awal muncul di Nusantara ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214)[5]. Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj”. Ini menunjukan bahwa bahwa disamping tasawuf sunni juga berkembang tasawuf falsafi di masyarakat. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti[6]. Dengan demikian secara garis besar aliran tasawuf yang berkembang pada zaman Wali Songo dapat dikelompokan menjadi dua,yaitu:
1. Tasawuf Sunni
Tasawuf sunni
adalah bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan Al Hadits
secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkat rohaniah)
mereka pada dua sumber tersebut. Tasawuf sunni adalah tasawuf yang
mengedepankan praktis, maka termasuk di dalamnya tasawuf akhlaki dan amali.
Dalam tasawuf sunni terdapat tiga langkah utama yang yang harus dilakukan untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT :
· Senantiasa
mengawasi jiwa (muraqabah) dan menyucikannya dari segala kotoran.
Firman Allah SWT: "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10].
Firman Allah SWT: "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10].
· Memperbanyak
zikrullah. Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah
(dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab:
41]. Sabda Rasulullah SAW "Senantiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah
mengingat Allah SWT".
· Zuhud di dunia,
tidak terikat dengan dunia dan gemarkan akhirat. Firman Allah SWT: "Dan
tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan
sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.
Maka tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)
2. Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma'rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma'rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud)[7]. Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Di dalam
tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni, kalau
tasawuf sunni lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi
menonjol kepada segi teoritis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi
lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis, yang ini
sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam,
bahkan bisa dikatakan mustahil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seiring dengan
masuk dan berkembangnya agama islam di Indonesia, tasawuf juga mengalami
perkmbangn yang sangat pesat. Di Indonesia sendiri tasawuf terpecah menjadi
dualiran yaitu tasawuf suni dan tasawuf falsafi.
Karena
perkembangannya sangat pesat, maka banyak bermunculan aliran-aliran tarekat
untuk mempelajari tasawuf.
Perkembangan
taswuf di Indonesia mempunyai hakikat tujuan yakni islamisasi penduduk
Indonesia yang masih menganut kepercayaan tradisional yang bersifat animisme,
dinamisme dengan pengaruh mistiknya, sementara itu tasawuf digunakan oleh para
wali untuk mengadakan pendekatan dengan masyarakat. Perkembangan tasawuf bukan
hanya di pulau jawa akan tetapi di pulau-pulau lain kepulauan nusantara.
Berdasarkan hal
diatas , perkembangan Islam di Indonesia sangat terkait sejarah dan pemikirian
tasawuf. Atau dengan kata lain penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat
dipisahkan dari tasawuf. Bahkan " Islam Pertama " yang dikernal di
Nusantara ini sesungguhnya adalah Islam yang disebarkan dengan sufistik. Para
penyebar Islam di Indonesia itu umunya pada Da'i yang memiliki pengetahuan dan
pengamalan tasawuf. Dianatar mereka juga banyak yang menjadi pangamal dan
penyebar tarekat di Indonesia.
10
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. 2002,
Akhlak Tasawuf, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta
Mulyati, Sri.
2005, Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Prenada
Media; Jakarta
Mulyati, Sri. 2005,
Tasawuf Nusantara RangkaianMutiara Sufi Terkemuka, Prenada Media; Jakarta
Aqib Kharisudin.
1998, Al Hikmah Memahami Theosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dunia
Ilmu Offset
Mahyuddin. 2005,
Kuliah Akhlak Thaswuf, Kalam Mulia; Jakarta
Daudy, Ahmad. 2008,
Tasawuf Aceh, Bandar Publishing; Aceh
http://izubed.blogspot.com/2012/05/perkembangan-tasawuf-dan-tarekat.html
11
[1]
Mulyati, Sri. 2005, Mengenal &
memahami tarekat-tarekat Muktabaroh di Indonesia, Prenada media; Jakarta
[2] Kharisudin,
Aqib. 1998, Al Hikmah Memahami Theosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah,
Dunia Ilmu Offset
[3] Daudy, Ahmad.
2008, Tasawuf Aceh, Bandar Publishing; Aceh
[6] Mulyati,
Sri. 2005, Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Prenada
Media; Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar